Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung

Tempat Ternyaman

Part 6 ***     Entah mengapa akhir-akhir ini emosiku sering sekali tidak stabil, gampang tersulut, gampang marah, gampang nangis, gampang sedih, pokoknya jadi sensi banget, deh. Bawaannya bete terus. Biasanya kalau sudah begini kondisinya, yang kulakukan adalah mendengar musik, makan cokelat, atau minum kopi. Dan di sinilah aku berakhir sekarang. Di ruang pribadiku. Bang Erpan selalu menjuluki ruangan ini sebagai ruang kerjaku. Bagaimana tidak, ruang ini berisikan segala perkakasku dalam membuat konten. Selama ini aku mengandalkan kemampuanku sendiri ketika menciptakan sebuah konten. Aku yang rekam, aku yang edit, aku yang bikin script, aku yang voice over, pokoknya aku semua.     Sebenarnya bisa-bisa saja aku jika ingin menyewa orang lain untuk membuat konten. Terlebih endorce yang masuk nggak bisa dibilang sedikit, nggak bisa dibilang banyak juga. Kadang-kadang aku cukup kelabakan mengatasinya sendiri. Akan tetapi, selama ini aku belum menemukan orang yang tepat y...

Jerih Payahku Diakui Orang Lain

Part 5 ***     Ketika aku tengah menggulir layar HP di beranda Instagram, aku melihat story salah seorang tetangga yang selama aku tinggal di sini sudah jadi teman gosip alias teman curcol alias teman ngegabut sehari-hariku. Rumahnya selang lima rumah ke arah Selatan dari rumah ini. Monica namanya. Seorang janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya sebulan lalu. Pernikahannya nggak lebih dari dua tahun dan belum juga dikaruniai seorang buah hati. Sehari-hari ia menghabiskan waktunya dengan membuat kue lalu dibagikannya ke tetangga-tetangga kiri kanan. Tak jarang aku juga dapat bagian, lantaran biasa juga kalau bosan di rumah, biasa aku pergi ke rumahnya untuk belajar membuat kue dengannya. Akan tetapi, pasca kepergian sang suami untuk selama-lamanya, Monica menjadikan hobinya itu sebagai sumber penghasilan untuk menopang biaya hidupnya. Sementara aku kini berperan sebagai reviewer sekaligus yang mempromosikannya di media sosial milikku yang ratusan ribu followers itu. Luma...

Tamu Tak Diundang

Part 4 ***     "Assalamualaikum...." Ucapnya dengan senyum terkembang setelah sekian detik aku hanya berdiri mematung memegang gagang pintu tanpa sempat menyapanya terlebih dahulu, apalagi mempersilakannya masuk.     "Waalaikummussalam, eh, Aprilia, ayo masuk-masuk," Sahutku dengan segaris senyum yang kurasa dan seharusnya bisa menyembunyikan gelisah di hatiku. Benar saja, orang yang sepagi ini datang bertamu ternyata adalah Aprilia. Aprilia yang subuh-subuh sudah teleponan dengan suamiku. Herannya kenapa Bang Erpan tadi nggak bilang kalau Aprilia bakalan datang hari ini. Kupikir dia telepon tadi masih di daerahnya. Bisa dipastikan kalau Aprilia menghubungi Bang Erpan tadi sudah dalam perjalanan. Mengingat jarak dari kota ini ke kota asal Aprilia sekitar empat puluh menit bila ditempuh menggunakan pesawat terbang.     "Eh, Bang Erpan nggak bilang ya tadi sama kamu kalau aku mau datang?" Tanya Aprilia, sopan. Sebenarnya aku mau jawab jujur aja, tetapi aku u...

Sosok Suami Idaman Semua Wanita

Part 3 ***     Selama Bang Erpan pergi kerja, aku menjalankan aktifitas dan rutinitasku setiap hari sebagai seorang ibu rumah tangga. Semenjak menikah, aku memang nggak lagi berkerja. Bang Erpan sedari awal juga sudah bilang kalau dia nggak mau kalau istrinya nanti ikut bekerja juga. Katanya biar dirinya saja yang bekerja, mencari uang untuk menafkahi keluarga. Aku cukup duduk manis di rumah. Urusan rumah juga aku nggak mengerjakan sepenuhnya. Hanya semisal kalau aku lagi datang rajin-rajinnya saja. Bang Erpan yang akan mengerjakan semua sepulang kerja. Memang Bang Erpan adalah tipe-tipe suami idaman semua wanita.  Akan tetapi, lantaran kerap merasa bosan sendiri di rumah, aku jadi sering beres-beres di rumah. Ya, hitung-hitung buat bantu Bang Erpan juga. Kasihan juga aku lihatnya sepulang kerja seharian, bukannya istirahat malah langsung beres-beres rumah. Meski begitu, nggak pernah sekali pun kudengar dia mengeluh. Hanya terkadang mulut tetangga dan beberapa rekan-reka...

Waspada Aksi Pelakor

Part 2 ***     "Ayo, Bang, sarapan! Udah siap, nih, jangan lama-lama nanti telat berangkat kerjanya. Nanti kalau kelamaan juga makanannya keburu dingin." Aku sengaja berlebihan menginstruksi Bang Erpan dengan volume yang kubuat sedikit nyaring, biar kedengaran seperti istri yang perhatian pada suami, biar mirip kayak ibu rumah tangga yang selalu mengurusi keperluan serta kebutuhan suami, biar cocok dibilang kayak emak-emak sejati meski belum memiliki buah hati. Ngomong-ngomong soal buah hati, sudah dua bulan ini aku belum merasakan tanda-tanda perutku sudah isi. Ya, aku berharap semoga aku bisa segera hamil. Dengan begitu, aku bisa menjadi seorang wanita sejati dan pastinya disayang suami hehehe.     Kudengar Bang Erpan berpamitan pada Aprilia lalu mematikan sambungan telepon dan menuju ke ruang makan memenuhi panggilan sang nyonya rumah. Kulihat Bang Erpan datang melangkah dengan wajah yang ditekuk seolah ada beban berat yang sedang mengganggu pikirannya. Nggak bias...

Mantan Sang Suami

***     Tilililiiiit tilililiiiit ... Bunyi telepon Bang Erpan, suami yang telah kunikahi dua bulan ini membangunkan tidurku di pagi hari. Kulihat jam sudah menunjukkan waktu pukul lima pagi. Duh, ada apa lagi sih, pagi-pagi udah nelepon aja. Aku sudah bisa menebak dengan pasti siapa yang sedang mencoba menghubungi suamiku itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Azalea, mantan pertama Bang Erpan di SMA, Aprilia, mantan kedua Bang Erpan pada saat menjadi mahasiswa, atau si Amelia, mantan terakhir Bang Erpan sebelum menikah denganku.     Konon ceritanya, Bang Erpan putus dengan Azalea dulu lantaran adanya orang ketiga dalam hubungan mereka yang membuat Azalea menggugat cerai, eh maksudnya meminta putus. Kalau sama Aprilia putusnya gara-gara emak mertuaku alias emaknya Bang Erpan kurang srek dengan Aprilia. Intinya firasat seorang emak yang merasa kalau sang anak tidak boleh berpasangan dengan Aprilia. Berhubung Bang Erpan ini emang orangnya paling nurut apa kata orang tua, ja...