Waspada Aksi Pelakor

Part 2
***
    "Ayo, Bang, sarapan! Udah siap, nih, jangan lama-lama nanti telat berangkat kerjanya. Nanti kalau kelamaan juga makanannya keburu dingin." Aku sengaja berlebihan menginstruksi Bang Erpan dengan volume yang kubuat sedikit nyaring, biar kedengaran seperti istri yang perhatian pada suami, biar mirip kayak ibu rumah tangga yang selalu mengurusi keperluan serta kebutuhan suami, biar cocok dibilang kayak emak-emak sejati meski belum memiliki buah hati. Ngomong-ngomong soal buah hati, sudah dua bulan ini aku belum merasakan tanda-tanda perutku sudah isi. Ya, aku berharap semoga aku bisa segera hamil. Dengan begitu, aku bisa menjadi seorang wanita sejati dan pastinya disayang suami hehehe.
    Kudengar Bang Erpan berpamitan pada Aprilia lalu mematikan sambungan telepon dan menuju ke ruang makan memenuhi panggilan sang nyonya rumah. Kulihat Bang Erpan datang melangkah dengan wajah yang ditekuk seolah ada beban berat yang sedang mengganggu pikirannya. Nggak biasanya Bang Erpan seperti ini, apalagi saat sarapan. "Ada apa, bang?" Sebagai istri yang baik dan perhatian pada suami, sudah sewajarnya aku menanyakan perihal apa yang membuat suaminya tiba-tiba berbeda dari biasanya.
    "Aprilia katanya mau cari kerja di sini. Dia mau coba merantau ke sini katanya," Sahut Bang Erpan yang seketika membuatku jantungan. Bukan apa-apa, kalau begitu ceritanya, nggak menutup kemungkinan mereka akan sering bertemu dan, dan, dan ... Kenapa aku harus takut? Bukankah aku istri sahnya Bang Erpan? Walau bagaimana pun mantan tetaplah mantan. Masa lalu tetap selalu jadi masa lalu. Akan tetapi, tetap saja rasa takut, cemas, dan khawatir itu menghantui. Aku nggak mau ada istilah cinta lama bersemi kembali di antara mereka. Meski pun Bang Erpan bilang dia nggak akan pernah selingkuh, apalagi menduakan aku, perihal hati siapa yang tahu. Sekarang bisa saja dia bilang begitu, besok-besok ... Aduh please, deh, aku nggak mau nggak mau nggak mauuuuu! Usia pernikahanku baru seumur jagung, apa aku memilih mundur saja atau aku harus bertahan demi pernikahan ini.
    "Sembari dia belum ada tempat tinggal, abang mau suruh dia tinggal di sini dulu biar ada teman kamu di rumah." Whattt! Aprilia mau datang merantau ke kota ini saja sudah merupakan kabar buruk bagi aku, apalagi mau disuruh tinggal di sini untuk sementara waktu. Terserah aku mau dibilang pelit atau nggak punya rasa empati terhadap orang lain. Tapi ini statusnya beda, coy! Aprilia adalah mantan kekasihnya Bang Erpan. Bagaimana nanti kalau mereka tumbuh benih-benih cinta lagi? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan?
    Sebenarnya nggak hanya karena alasan Aprilia adalah mantan dari suamiku, mau itu kawanku, sahabatku, saudaraku, kalau sudah ada perempuan lain dalam rumah yang mau dan akan tinggal untuk jangka waktu yang belum bisa dipastikan bakalan berapa lamanya, pasti itu akan menimbulkan masalah baru. Oke-lah beberapa mantannya Bang Erpan ada yang aku kenal baik, tapi kalau Aprilia ini aku cuma sekedar mendengar ceritanya, dan aku nggak terlalu akrab juga sama dia. Aprilia menurutku terlalu jaim, sok-sok lembut, pendiam kalau sama aku. Kalau sama Bang Erpan, huh centilnya minta ampun.
    "Memangnya dia sudah ada kerjaan di sini, sampai mau jauh-jauh ninggalin tanah kelahirannya," tanyaku mencoba menimbang-nimbang.
    "Belum, sih, katanya lagi diusahain dulu," Sahut Bang Erpan seraya menghabiskan suapan terakhir di piringnya.
    "Ya, kalau gitu, jangan dululah ke sini kalau belum jelas mau kerjanya apa. Nyari kerja itu kan nggak gampang, Bang! Nggak hari ini masukin lamaran besoknya langsung keterima. Apalagi ini kota besar, yang nyari kerjaan di sini nggak satu dua orang. Bahkan banyak juga yang udah jauh-jauh ke sini ujung-ujungnya luntang-lantung nggak jelas," ujarku memberi opini, berharap Bang Erpan mau mengerti dan setidaknya mempertimbangkan kembali apa yang aku utarakan. Aku mengutarakan hal itu bukan semata karena menuruti perasaanku yang lagi was-was, tapi aku mengeluarkan pendapat berdasarkan logika dan realita yang ada.
    "Kamu kenapa, sih, kayak keberatan banget kalau Aprilia ke sini? Ada masalah apa kamu sama dia? Aprilia kan nggak pernah ganggu kamu," kata bang erpan, ketus.
    "Bukan begitu, Bang, cobalah abang pikir maksud aku tadi, jangan dulu emosi. Aku setuju-setuju aja kalau Aprilia ke sini, cari kerja di daerah sini, tapi ada baiknya kalau sebelum Aprilia ke sini dipastikan dulu kerjanya di mana dan nanti dia akan kerja sebagai apa, biar..."
    "Biar dia nggak lama-lama tinggal di sini, kan? Biar kamu nggak harus bersaing sama dia, kan, kalau dia tinggal di rumah ini untuk sementara waktu? Honey ... Honey ... aku tahu kamu itu lagi cemburu sama Aprilia. Dan cemburu kamu itu nggak beralasan. Lagian ngapain juga harus cemburu sama Aprilia? Dia itu mantan aku, dan kamu adalah istri aku. Aprilia adalah perempuan yang pernah jadi bagian dari hidup aku di masa lalu, dan kamu aadalah pendamping aku sekarang dan untuk selamanya. Dah-dah, ya, aku mau berangkat kerja dulu, jaga diri baik-baik di rumah selama aku nggak ada. Love you!" Pamit bang Erpan seraya memberikanku kecupan di kening sebagai salam pamit sebelum berlalu pergi berangkat kerja. Tak lupa aku mencium tangannya sebagai bentuk hormat. Bang Erpan memang sedari awal sudah memberi ultimatum agar setiap pagi, sebelum Bang Erpan berangkat kerja atau semisal aku mau keluar rumah sedang ada suami di rumah, wajib untuk salam dan berpamitan dengan mencium tangannya, apapun kondisinya.
    Itulah yang membuatku jatuh cinta setengah mati sampai takut teramat sangat kalau sampai kehilangan Bang Erpan. Bang Erpan itu selain orangnya baik, penyayang, pengertian, romantis, pekerja keras pula. Dan menurut ceritanya, Bang Erpan selama pacaran dengan mantan-mantannya dulu, nggak pernah dia yang ninggalin duluan atau mutusin hubungan terlebih duluu. Intinya Bang Erpan itu nggak pernah berulah-lah sama pacar-pacarnya dulu kalau bukan mereka yang mengarang-ngarang alasan buat minta putus.
    Akan tetapi, meskipun Bang Erpan telah berucap demikian, tetap saja perasaanku nggak tenang. Bayangan bagaimana nanti kelakuan Aprilia di depan Bang Erpan saja sudah membuatku bergidik ngeri. Sedang melalui via telepon saja sudah kedengarannya centil begitu, apalagi bila bertemu secara langsung. Huh! Memikirkan itu sepagi ini saja sudah membuat suasana hatiku turun drastis. Apapun yang dibilang oleh suamiku barusan sama sekali nggak membuat hati ini tenang.
    Semoga ini cuma perasaanku saja yang berlebihan. Aku nggak boleh panik. Aku harus tetap tenang. Lagipula Aprilia juga masih di tanah kelahirannya. Setidaknya aku masih punya waktu untuk menggagalkan rencana Aprilia untuk mengadu nasib di kota ini. Kalau mau merantau, ke kota lain saja sanah, kan banyak. Nggak harus ke kota ini juga. Nanti kalau si aprilia itu memang sudah berdiri di depan mata, baru-lah kupikirkan strategi apa yang harus kulakukan untuk menghalau aksi pelakor dalam rumah tanggaku. Ya, bukannya mau berburuk sangka, apalagi berpikiran negatif, tapi bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?
    Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Desain Grafis: Membuat dan Menganalisis Logo