Sosok Suami Idaman Semua Wanita

Part 3
***
    Selama Bang Erpan pergi kerja, aku menjalankan aktifitas dan rutinitasku setiap hari sebagai seorang ibu rumah tangga. Semenjak menikah, aku memang nggak lagi berkerja. Bang Erpan sedari awal juga sudah bilang kalau dia nggak mau kalau istrinya nanti ikut bekerja juga. Katanya biar dirinya saja yang bekerja, mencari uang untuk menafkahi keluarga. Aku cukup duduk manis di rumah. Urusan rumah juga aku nggak mengerjakan sepenuhnya. Hanya semisal kalau aku lagi datang rajin-rajinnya saja. Bang Erpan yang akan mengerjakan semua sepulang kerja. Memang Bang Erpan adalah tipe-tipe suami idaman semua wanita. 
Akan tetapi, lantaran kerap merasa bosan sendiri di rumah, aku jadi sering beres-beres di rumah. Ya, hitung-hitung buat bantu Bang Erpan juga. Kasihan juga aku lihatnya sepulang kerja seharian, bukannya istirahat malah langsung beres-beres rumah. Meski begitu, nggak pernah sekali pun kudengar dia mengeluh. Hanya terkadang mulut tetangga dan beberapa rekan-rekannya yang terkadang suka nyinyir. Mengataiku istri yang pemalas dan nggak bisa mengurus rumah. Ooops! Bukan lantaran aku dinyinyirin mereka makanya aku mau melakukan pekerjaan rumah. Ini semua kulakukan murni semata karena ingin membunuh waktu kosongku saja, biar aku nggak mati kebosanan.
    Terkadang aku bertanya-tanya apa sih tujuannya Bang Erpan menikah? Orangnya sudah mapan, pinter masak, rajin juga beres-beres rumah, kawan-kawannya banyak, aku rasa dia nggak akan kesulitan seandainya dia nggak menikah. Cuman waktu itu katanya dia ingin punya istri itu alasannya dia ingin kalau pulang ada yang tungguin di rumah, ada teman yang bisa diajak diskusi apa aja dan kapan aja, dan pastinya seperti keinginan manusia pada umumnya, dia juga ingin menghasilkan keturunan yang bisa menemaninya di masa tua.
    Padahal sebelumnya aku sempat merasa over thinking dengan diriku sendiri yang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Lantaran sejak kecil aku orangnya kerap sakit-sakitan, atau biasa orang bilang rentan terkena penyakit. Bahkan konon katanya namaku sering digonta-ganti sebab alasan acap sakit-sakitan itu. Ada yang namanya juleha, sukiem, juminten, syukrini, astagaaaaa bahkan sekarang pun kalau aku ingat sederet nama-nama tersebut masih membuat perutku tergelitik. Apa jadinya kalau nama-nama itu bila disatukan dengan namaku yang sekarang. Akan sangat nggak nyambung banget kedengarannya. Juleha Sukiem Juminten Syukrini Zalvia Ifanda. Berasa nama rakyat jelata menjelma nama Putri Raja, hahaha!
    Aku masih ingat percakapanku dengan Bang Erpan beberapa bulan yang lalu, sebelum memantapkan diri menikah denganku. Sebab, aku nggak mau menutup-nutupi kekuranganku supaya nggak ada penyesalan di kemudian hari. Bagiku, sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, sebelum mengikrarkan janji suci pernikahan, segala sesuatunya harus diperjelas. "Apa yang kamu cari dari aku, Bang? Aku ini nggak bisa masak, nyapu juga suka nggak bersih, kamar masih dibersihin, baju masih dicuciin, makan masih disuapin, abang tahu sendirilah, kan aku udah sering cerita. Aku ini dari dulu nggak pernah dibiasain buat ngerjain pekerjaan rumah, dari kecil aku ini sudah sering dimanjain karena badanku yang sering sakit-sakit, aku nggak mau nantinya malah merepotkan abang!" Cerocosku ketika Bang Erpan mengutarakan keinginannya untuk meminangku.
    Dan, jawaban Bang Erpan saat itu sukses membuatku nggak bisa berkata-kata, bungkam seribu bahasa, seolah nggak ada lagi yang bisa kujadikan alasan buat menolak pinangannya. "Aku butuh ratu di istanaku, bukan pembantu. Kalau cuma itu yang kamu cemaskan, aku juga bisa melakukannya. Lagian aku juga bisa membayar asisten rumah tangga untuk melakukan itu semua. Yang kubutuhkan pendamping hidup, teman hidup yang mau menemani aku dan mendampingi aku sampai akhir hayat, dan sosok yang akan melahirkan anak-anak aku kelak," Jawabnya kala itu, di waktu senja yang menurutku terasa lebih indah dari biasanya, senja yang penuh cinta dan kebahagiaan.
    Semenjak menikah, setelah pisah dengan orangtua, di mana aku mulai mencoba hidup mandiri. Meskipun Bang Erpan telah memfasilitasi dengan asisten yang datang setiap hari kecuali Sabtu Minggu, dari jam sepuluh pagi sampai jam lima sore, tetap saja naluriku sebagai perempuan terpanggil untuk bisa melakukan apa saja yang dilakukan para istri di rumah. Dengan dibantu Bi Minah, seorang asisten yang kubilang tadi, aku belajar mencuci baju, masak nasi yang tadinya seringkali setengah matang akibat kurang air, memasak sayur yang rasanya pas dilidah dan nggak terlalu lembek karena kematengan, menggoreng ikan, ayam, tahu tempe, telur, hadeuh ... ternyata begini rasanya jadi ibu-ibu rumah tangga. Meski berlelah-lelah, tetapi tetap dijalani.
    Hari ini Bi Minah izin nggak bisa datang karena suaminya yang lagi sakit. It's okay, bagiku itu bukan masalah besar. Berkat aku sudah belajar banyak dari Bi Minah dan Bang Erpan, pekerjaan rumah sudah bisa kukerjakan walau sedikit lambat. Ya, namanya juga masih dalam proses belajar, masih penyesuaian diri dengan rutinitas baru, yang biasanya aku waktu masih gadis jam segini masih bergolek-golek di kasur, kini aku sudah beres menyapu, mencuci piring, mencuci baju dengan mesin cuci, dan kali ini aku mau bereksperimen dengan resep baru yang aku dapat dari YouTube.
    Aku semakin antusias ketika membayangkan ekspresi Bang Erpan saat menyantap masakanku. Walau aku kurang percaya diri dengan hasilku, tapi Bang Erpan selalu menghargai jerih payahku. Tapi untungnya setelah beberapa kali percobaan aku mencoba resep baru, aku belum pernah gagal. Bukannya mau sombong, tapi katanya Bang Erpan dan Bi Minah, masakanku rasanya pas, seperti lahir dari tangan-tangan orang yang jago masak. Padahal kalau soal dapur aku belum ada pengalaman sama sekali. Katanya aku kalau diajarin gampang, sekali dikasih tahu langsung nangkep. Ya, iyalah ... gimana nggak, aku di keluarga sejak kecil selalu dibiasakan untuk cepat mengingat sesuatu, tangkas menyikapi sesuatu, dan disiplin dengan waktu. Bahkan kalau bisa jangan sampai boros waktu.
    Sedang asyik-asyiknya aku mengupas bawang di dapur, tiba-tiba suara ketukan pintu depan rumah mengagetkanku. "Siapa yang datang pagi-pagi gini, ya?" Kulihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 08.43. Kalau dari kurir yang mau nganter paket, kan, pasti sudah berseru pakeeet! Tapi ini nggak ada. Siapa, ya, gerangan? Nggak ingin membiarkan si pengetuk pintu lama menunggu, segera kuambil hijab instan dan melangkah keluar meninggalkan sebentar apa yang tengah kukerjakan. Namun sebelum itu tak lupa aku mencuci kedua tangan menggunakan sabun agar nggak bau bawang.
    Mataku membelalak sempurna tak percaya melihat siapa yang datang. Tak pernah kubayangkan sosok yang sebenarnya tengah kuhindari, kini telah berdiri dengan senyum terkembang di wajah beserta koper di tangan kirinya. Ya, Tuhan, mengapa harus secepat ini. Bang Erpan juga nggak bilang apa-apa tadi sebelum pergi. Lantas, bagaimana ini? Tak mungkin aku mengusir atau tak mempersilakannya masuk. Firasatku berkata akan terjadi suatu hal yang buruk bila aku bersikap acuh. Baiklah, demi kesopanan, kukesampingkan emosi yang meletup-letup di dalam dada.


    Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tamu Tak Diundang

Tempat Ternyaman

Waspada Aksi Pelakor