Tempat Ternyaman
Part 6
***
Entah mengapa akhir-akhir ini emosiku sering sekali tidak stabil, gampang tersulut, gampang marah, gampang nangis, gampang sedih, pokoknya jadi sensi banget, deh. Bawaannya bete terus. Biasanya kalau sudah begini kondisinya, yang kulakukan adalah mendengar musik, makan cokelat, atau minum kopi. Dan di sinilah aku berakhir sekarang. Di ruang pribadiku. Bang Erpan selalu menjuluki ruangan ini sebagai ruang kerjaku. Bagaimana tidak, ruang ini berisikan segala perkakasku dalam membuat konten. Selama ini aku mengandalkan kemampuanku sendiri ketika menciptakan sebuah konten. Aku yang rekam, aku yang edit, aku yang bikin script, aku yang voice over, pokoknya aku semua.
Sebenarnya bisa-bisa saja aku jika ingin menyewa orang lain untuk membuat konten. Terlebih endorce yang masuk nggak bisa dibilang sedikit, nggak bisa dibilang banyak juga. Kadang-kadang aku cukup kelabakan mengatasinya sendiri. Akan tetapi, selama ini aku belum menemukan orang yang tepat yang bisa kuajak kerja sama di bidang ini. Pernah beberapa kali aku mengajak orang lain yang kurasa cocok dan punya skill di bidang konten kreator, ujung--ujungnya aku yang nggak betah melakukan kerja sama dengan mereka lantaran hasilnya lebih sering nggak sesuai apa yang kuharapkan. Jadi kurang srek aja gitu.
Dalam suasana hati yang masih kacau-balau akibat mulut Aprilia yang nggak bisa dikontrol, Aku duduk menyendiri, menenangkan diri di sebuah kursi yang langsung menghadap ke jendela. Tapi nggak lansung jendela, sih, di depannya ada meja laptop serta kumpulan-kumpulan koleksi bacaanku mulai dari novel, majalah, sampai buku motivasi pun ada. Pemandangan yang tersaji di depan mata memperlihatkan pemandangan halaman depan rumah yang tidak luas, namun masih bisa kuisi dengan beberapa tanaman. Ada motor Bang Erpan juga bertengger di sana. Ruangan ini memang letaknya di bagian depan rumah, aku yang memintanya lantaran merasa nyaman saja bagiku ketika berimajinasi sambil melihat-lihat lalu-lalang orang dijalanan serta tanaman-tanaman yang kurawat.
Hmmm ... ngomong-ngomong soal imajinasi, aku jadi teringat draft naskah novel yang belum sempat kukerjakan. Padahal draft tersebut sudah kubuat jauh sebelum aku menikah. Iseng kubuka laptop pribadiku lalu mengecek apakah draft tersebut masih ada atau tidak. Sepertinya aku akan mencoba mengeksekusinya dalam waktu dekat. Lumayan buat mengisi kejenuhan di rumah, selain membuat konten tentunya. Eh, tapi bukankah menulis itu juga termasuk bagian dari membuat konten? Ya, selama itu tersedia dan tersebar melalui elektronik, maka apapun bentuknya, mau itu video, audio, bahkan tulisan pun merupakan sebuah konten. Setidaknya itu yang kutangkap dari penjelasan salah seorang dosen ketika aku masih menempuh pendidikan sarjana.
Perhatianku teralihkan ketika mendengar bunyi ketukan di pintu ruanganku. Bisa kutebak yang berdiri di balik pintu itu pastilah tidak lain dan tidak bukan pelakunya adalah Bang Erpan. Aku hapal betul irama ketukannya. Aku membuka pintu tersebut dengan wajah yang kubuat sedatar mungkin. Aku hanya ingin menyampaikan pesan nonverbal kepadanya bahwa aku masih dalam mode sebal dan tidak ingin diganggu. Kulihat Bang Erpan menyodorkanku segelas kopi dan beberapa potong kue brownies yang aku buat kemarin. Pasti baru diambilnya dari lemari pendingin. Bang Erpan tahu banget makanan dan minuman yang bisa membuatku merasa relax. Tanpa pikir panjang, kuambil nampan yang dibawanya, dan ia berlalu dengan senyum yang mengisyaratkan dirinya paham kalau aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri.
Baru saja aku mendudukkan bokong di kursi, sekonyong-konyong aku teringat kue yang dibawakan Monica. Aku belum sempat mempostingnya di story Instagram. Bergegas aku kembali ke ruang tengah, tempat terakhir aku meletakkan barang tersebut. Tak kudapati Bang Erpan maupun Aprilia di sana. Barangkali mereka sedang istirahat siang di kamar masing-masing, atau lagi bercengkrama mengenang masa-masa ketika mereka masih berpacaran, ah ... entahlah ... aku nggak mau ambil pusing dengan keberadaan mereka. Yang harus kulakukan sekarang adalah, segera membuat review tentang kue Monica lalu mengunggahnya di story Instagram.
"MasyaAllah, siang-siang gini dapat kiriman dari tetangga sebelah. Kira-kira apa, ya, isinya? Jadi penasaran, deh," kataku sambil mengarahkan kamera ke kotak kue bermotif bunga-bunga itu. Dilanjutkan pada unggahan selanjutnya di mana menampilkan aku yang sedang menikmati kue tersebutt dengan nikmatnya, sampai gerakan lidah, bibir, wajah, suara kubuat sedramatis mungkin, sambil menyebutkan alamat yang bisa dihubungi jikalau ada yang pengen order. Tak lupa menandai atau istilahnya mention akun Instagram Monica. Selain itu, pada detik-detik terakhir video aku melemparkan kalimat-kalimat persuasif untuk menarik minat calon pembeli. "Jangan lupa diorder, ya, Guys! Kalau nggak, wah ... rugi banget nggak bisa menikmati cake ala koki kelas dunia!"
Seusai aku mengerjakan tugasku sebagai konten kreator, lekas kubuka file draft naskah novel yang hendak aku eksekusi. Entah nantinya akan jadi dalam jangka waktu berapa lama, atau akan aku rilis cetak dalam bentuk buku fisik sajakah, atau dalam sebuah platform penulisan online, entahlah ... intinya aku ingin mencoba terjun di dunia kepenulisan ini. Bagaimana hasilnya nanti, aku ikuti saja ke mana nantinya karyaku kan bermuarah. Aku nggak memaksa tulisanku harus bagus, tetapi bisa jadi dalam bentuk tulisan yang utuh saja aku sudah senang. Sebab, tidak semua orang bisa menuangkan suatu gagasan dalam sebuah tulisan apalagi menceritakan ulang sebuah pengalaman menjadi suatu karangan yang bisa dibaca dan dinikmati orang banyak.
Sinyo. Nama itu yang pertama kali muncul di file-ku. Ingatangku seketika mengawang pada obrolan kami setahun yang lalu melalui panggilan suara di Whats-App. Waktu itu Bang Sinyo memintaku untuk menuliskan cerita tentang pengalaman hidupnya.
"Terserah dah nanti mau jadinya berapa halaman. Mau jadi cerpen, novel, yang penting bisa jadi sebuah tulisan saja saya sudah senang," katanya waktu itu. Tadinya aku sempat bingung mengapa project ini dilimpahkan ke aku, sedangkan aku pengalaman menulis saja nggak ada sama sekali. Ada, sih, pengalaman nulis di caption atau membuat script konten, tapi apakah itu termasuk kualifikasi pengalaman menulis juga? Sebab biasanya skill yang nggak bersertifikat itu jarang diakui. Apalagi aku yang kerjainnya sendiri, apa iya aku harus bikin sertifikat dariku dan untukku sendiri supaya bisa diakui skillnya?
Aku menghubungi nomor yang sudah lama tak kuhubungi. Ya, nomor siapa lagi kalau bukan nomornya Bang Sinyo. Beliau adalah kawan yang hanya kukenal melalui media sosial. Belum pernah ada pertemuan secara langsung di antara kami. Tentunya sebelum media sosialku berkembang seperti sekarang ini. Umurnya dua puluh tahun di atasku. Konon katanya dia merupakan penggemar setiaku di media sosial. Semua konten dan caption yang kuunggah tak luput dari pantauannya. Niatku menghubunginya tidak semata-mata ingin bernostalgia, melainkan ingin bertanya lebih lanjut terkait ceritanya yang ingin aku tuliskan.
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar