Tamu Tak Diundang

Part 4
***
    "Assalamualaikum...." Ucapnya dengan senyum terkembang setelah sekian detik aku hanya berdiri mematung memegang gagang pintu tanpa sempat menyapanya terlebih dahulu, apalagi mempersilakannya masuk.
    "Waalaikummussalam, eh, Aprilia, ayo masuk-masuk," Sahutku dengan segaris senyum yang kurasa dan seharusnya bisa menyembunyikan gelisah di hatiku. Benar saja, orang yang sepagi ini datang bertamu ternyata adalah Aprilia. Aprilia yang subuh-subuh sudah teleponan dengan suamiku. Herannya kenapa Bang Erpan tadi nggak bilang kalau Aprilia bakalan datang hari ini. Kupikir dia telepon tadi masih di daerahnya. Bisa dipastikan kalau Aprilia menghubungi Bang Erpan tadi sudah dalam perjalanan. Mengingat jarak dari kota ini ke kota asal Aprilia sekitar empat puluh menit bila ditempuh menggunakan pesawat terbang.
    "Eh, Bang Erpan nggak bilang ya tadi sama kamu kalau aku mau datang?" Tanya Aprilia, sopan. Sebenarnya aku mau jawab jujur aja, tetapi aku urungkan. Entahlah ... aku bingung juga dengan diriku sendiri, nggak jarang timbul perdebatan kecil antara hati dan pikiran serta tindakan. Dalam hati maunya apa, di pikiran bilangnya apa, eh yang kulakukan justru nggak singkron dengan maunya hati dan pikiran.
    Berhubung kamar tamu belum aku rapihkan, kupersilahkan tamuku itu, eh, ralat ... lebih tepatnya tamu dari suamiku. Tapi terserah, deh, mau dibilang itu tamunya Bang Erpan, sedangkan aku adalah istrinya. Berarti tamu aku juga,, dong. Hanya saja aku tahu persis Aprilia datang ke sini bukan karena ada perlu sama aku, melainkan sama Bang Erpan suamiku.
    Setelah sedikit berbasa-basi, kutinggalkan Aprilia di ruang tamu untuk melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Tentunya aku sudah menyuguhkan segelas teh manis hangat dan cemilan yang selalu kusediakan di lemari dapur, buat persediaan kalau-kalau ada datang tamu dadakan seperti saat ini. Terlebih Bang Erpan yang tergabung di berbagai komunitas dan memiliki banyak kawan, tak menutup kemungkinan rumah ini dijadikan tempat mereka kumpul-kumpul sekadar berbasa-basi maupun mendiskusikan hal-hal berkaitan dengan kegiatan mereka.
    Dan, rupanya Aprilia menyusulku ke dapur. Ingin turut membantuku masak-masak di dapur katanya. Niat baik seseorang harus diterima, kan? Jangan ditolak. Jadi kubiarkan saja Aprilian melakukannya. Barangkali dengan begitu kami berdua bisa mengakrabkan diri satu sama lain. Apalagi kalau jadi Aprilia tinggal di sini, jangan harap dia bisa bermalas-malasan, ongkang-ongkang kaki sementara aku yang kerepotan sendirian di rumah. Benar Aprilia statusnya sebagai tamu, yang di mana tamu adalah raja, tapi kalau berniat tinggal untuk beberapa waktu yang belum bisa dipastikan aku rasa itu bukan tamu lagi namanya, melainkan sudah berubah status menjadi menumpang di rumah orang. Kecuali dia mau bayar uang bulanan sama aku, hehe. Ya, anggap satu kamar di rumah ini dikontrakkan untuk Aprilia, itu berarti segala keperluan dan segala yang berkaitan dengan kegiatan serta kebutuhan sehari-hari ya sendiri-sendiri alias masing-masing.
    Teman tetap teman, kenalan tetap kenalan, kawan juga tetaplah kawan, tapi kalau urusannya bisnis, no friend, no family.
    Setelah dua jam berkutat di dapur, akhirnya menu untuk makan siang pun siap. Kurasa makanan ini bisa bertahan sampai nanti malam atau bahkan sampai besok pagi bila dihangatkan. Hari ini aku mencoba menu baru yaitu semur jengkol dan ayam geprek. Dulu saat kami masih berpacaran, Bang Erpan pernah bilang kalau dia suka sekali sama jengkol. Apalagi kalau dibikin semur. Jengkol aku biasa dengar, tetapi kalau makannya, belum pernah sama sekali. Di rumahku dulu nggak pernah ada yang namanya jengkol dalam menu sehari-hari. Pernah suatu hari aku minta dibelikan jengkol, akan tetapi sampai aku menikah nggak juga dibelikan. Aku sempat mengira jengkol itu makanan mahal yang saking mahalnya, orang tuaku nggak bisa beli. Katanya jengkol itu memiliki aroma yang tajam, apalagi setelah dikonsumsi bisa menyebabkan bau mulut. Meski begitu, herannya banyak yang suka makan jengkol. Terkecuali aku yang belum tahu sama sekali bagaimana rasanya jengkol.
    Sedangkan ayam geprek adalah makanan favorit aku sejak SMA, yang di mana selama ini aku hanya membelinya saja, nggak pernah buat langsung sendiri. Karena penasaran gimana cara bikinnya, dan penasaran juga apakah aku bisa membuat ayam geprek dengan cita rasa yang sesuai seperti yang biasa kubeli. Memang terkadang kalau nggak mau ribet dan nggak pengen repot, order makanan, go food, delifery, sudah menjadi solusi bagi mereka yang nggak sempat masak atau malas masak, melainkan juga seperti aku mikirnya kalau buat sendiri, kan, belum capeknya, belum lagi ada kemungkinan masakannya gagal alias nggak sesuai apa yang diharapkan. Daripada begitu, kan, lebih simple dan praktis kalau langsung beli. Nggak perlu capek-capek, tinggal duduk manis, tunggu orderannya sampai, udah bisa langsung dimakan. Rasanya pun so pasti nggak mengecewakan di lidah. Auto langsung kenyang!
    "Pril, kamu makan aja dulu, nggak usah nungguin Bang Erpan pulang. Takutnya kelamaan nunggu dianya pulang, nanti kamu lapar," pintaku yang ditanggapi dengan anggukan. Sembari menunggu Bang Erpan pulang, seperti biasa aku melihat-lihat media sosialku yang alhamdulillah beberapa ada yang sudah centang biru alias sudah terferifikasi. Sebelum menikah, aku memang memfokuskan diri pada dunia konten kreator, sehingga bisa memiliki pengikut sebanyak sekarang ini. Kebetulan aku merupakan lulusan sekolah pasca sarjana di jurusan ilmu komunikasi dengan IPK yang memang nggak cumloude, tapi nggak memalukan juga untuk dibanggakan. Terlebih aku mendapatkannya dari kampus ternama di kota asalku.
    Banyak orang yang menyayangkan gelar serta ilmu yang kupunya, lantaran pemikiran mereka yang beranggapan bahwasannya seseorang yang sudah menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi sepertiku seharusnya bekerja di instansi pemerintahan, yang dianggap punya masa depan cerah serta memiliki penghasilan tetap setiap bulannya bahkan tak perlu pusing-pusing memikirkan biaya hidup di masa tua. Akan tetapi, aku lebih memilih bekerja lepas, nggak terikat dengan ruang dan waktu serta aturan-aturan yang nggak sesuai dengan prinsipku.
    Lagipula apa yang tengah aku jalani saat ini bukan berarti nggak sama sekali memanfaatkan ilmu yang kudapat. Kalau sekadar gelar, menurutku itu hanyalah penghormatan atau penghargaan sebagai bentuk atau tanda bahwa kita pernah belajar dan menekuni suatu bidang tertentu. Yang patut dipertanyakan adalah apakah ilmu yang didapat tersebut bisa atau nggaknya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu berdampak pada diri sendiri, individu yang lain, atau masyarakat sekitar serta orang banyak. Wah hahaha ... ini aku lagi nulis artikel atau novel, sih? Kayaknya lebih banyak penjelasannya daripada alur ceritanya hehe ... Apa perlu ditambah teori sama data-data yang mendukung? Biar sekalian ini bukannya jadi novel malah jadi makalah, haha!!!
    Bersambung....
    Lanjut di part selanjutnya, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspada Aksi Pelakor

Tugas Desain Grafis: Membuat dan Menganalisis Logo