Jerih Payahku Diakui Orang Lain

Part 5
***
    Ketika aku tengah menggulir layar HP di beranda Instagram, aku melihat story salah seorang tetangga yang selama aku tinggal di sini sudah jadi teman gosip alias teman curcol alias teman ngegabut sehari-hariku. Rumahnya selang lima rumah ke arah Selatan dari rumah ini. Monica namanya. Seorang janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya sebulan lalu. Pernikahannya nggak lebih dari dua tahun dan belum juga dikaruniai seorang buah hati. Sehari-hari ia menghabiskan waktunya dengan membuat kue lalu dibagikannya ke tetangga-tetangga kiri kanan. Tak jarang aku juga dapat bagian, lantaran biasa juga kalau bosan di rumah, biasa aku pergi ke rumahnya untuk belajar membuat kue dengannya. Akan tetapi, pasca kepergian sang suami untuk selama-lamanya, Monica menjadikan hobinya itu sebagai sumber penghasilan untuk menopang biaya hidupnya. Sementara aku kini berperan sebagai reviewer sekaligus yang mempromosikannya di media sosial milikku yang ratusan ribu followers itu. Lumayan buat endorce, hehe.
    "Zal, aku ada bikin kue pakai resep baru, nih, cobain, yaa, bentar lagi aku antar ke situ. Jangan lupa post di instagram story."
    Tuh, kan, apa kubilang, urusan promosi mempromosi pasti percayakan sama aku, soalnya katanya kalau aku udah post banyak yang lihat, auto banyak yang mesan.
***
    Drum... Drum...
    Kudengar suara motor Bang Erpan di depan rumah, tandanya dia sudah pulang kerja. Segera kusambut dia di depan rumah dengan senyum merekah. Namun, ternyata bukan aku saja yang menyambut kepulangan Bang Erpan. Ada wanita lain di sana yang sudah menyapa Bang Erpan dengan senyum manisnya. Siapa lagi kalau bukan Aprilia. Kukira sehabis kusuruh dia makan tadi dia langsung ke kamar tamu yang telah kubersihkan, paling nggak dia mengatur barang bawaannya terlebi dahulu atau sekadar beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Sementara itu, aku melihat Bang Erpan menatap mantannya itu dengan bingung, terheran-heran, atau lebih tepatnya seperti menatap hantu di siang bolong.
    "Hallo, Bang, kaget, ya, lihat aku di sini? Maaf tadi aku nggak bilang kalau mau datang ke sini hari ini, soalnya aku mau ngasih kejutan sama abang!!! Tadi itu aku nelepon aku sudah dalam perjalanan mau ke bandara."
    Bang Erpan mengangguk dan tersenyum lantas mencari keberadaanku yang mematung di depan pintu. Sekilas kulihat Aprilia mendelik tak suka ke arahku, namun sedetik kemudian dia mengubah kembali ekspresinya ke mode tersenyum secerah mentari. Segera kuhampiri suamiku itu lalu mencium tangan kanannya. Kulihat Aprilia juga ingin melakukan hal yang sama, akan tetapi diurungkannya sebab Bang Erpan tak melepas tangannya dari tanganku. Wow, pemandangan yang sangat romantis, bukan? Kemudian dengan kedua tangan kami yang masih saling bertautan, Bang Erpan menuntunku membawaku masuk dan diikuti oleh Aprilia mengekor di belakang.
    "Abang masuk aja dulu, aku mau ambil endorce-an sebentar di depan," kataku ketika melihat Monica sudah berdiri di pagar depan rumahku membawa kue bikinannya yang harus aku riview dan aku promosikan di media sosial pribadiku. Setelah berbasa-basi sebentar dan membicarakan tentang bagaimana nanti aku mempromosikan serta segala tetek-bengeknya, aku pun masuk ke dalam rumah. Kudapati Aprilia dan Bang Erpan sudah duduk di ruang makan. Jangan lupakan Aprilia yang sedang melayani Bang Erpan makan seolah dia istrinya dan Bang Erpan adalah suaminya. Wow, pemandangan yang membuat bara api di dalam dada menyala-nyala hingga membakar ke seluruh jiwa.
    "Ini, Bang, aku masakin buat abang semur jengkol. Soalnya aku ingat banget abang dari dulu suka banget makan sama semur jengkol, kan? Jadi ingat masa-masa kita dulu, ya, Bang ... kebetulan tadi pas aku sampai sini, Zalvia lagi masak, jadi aku bantuin, deh. Enak nggak semur buatan aku?" Whattt?! Apa dia bilang? Enak saja mulutnya bilang itu semur buatan dia. Padahal aku yang memasaknya dari awal sampai selesai. Sedang dia tadi cuma bantuin aku bikin sambal ayam geprek doang, banyakan duduk sama ngelihatin aku kayak komentator atau juri dalam sebuah kompetisi memasak.
    Aku mempercepat langkahku untuk bergabung dengan mereka, sebelum Aprilia ngomong ke sana ke mari yang bukan-bukan. Menyadari kehadiranku di ruang makan membuat Aprilia kikuk seketika. Aku melenpar senyum kepadanya seolah tadi aku tak mendengar apa-apa. Padahal melihat keberadaannya saja sudah membuatku hilang selera makan. Aku hanya mengambil ayam geprek yang kubuat tanpa sambal dan nasi. Kalau bukan karena ingin menemani suamiku makan, malas sekali rasanya menelan apapun siang itu.
    "Honey, kamu nggak makan nasi?" Aku menggeleng dan berkata, "Masih kenyang, Bang, tadi aku banyak ngemilnya."
    "Banyak-banyaklah makan, biar kamu sehat. Lihat badan kamu kurus banget, entar aku dikiranya nggak pernah ngasih kamu makan."
    "Aku sehat, kok, Bang, emangnya aku selama ini sakit?"
    "Nggak ... Maksud aku tuh, biar kamunya berisi gitu."
    "Apanya yang mau disuruh berisi?" tanyaku pura-pura nggak tahu.
    "Berisi badannya lah, kalau bisa berisi juga perutnya, hehe...."
    "Uhuk!" Tiba-tiba Aprilia tersedak makanannya sendiri. Aku dan Bang Erpan kompak memberinya segelas air. Tapi hanya air dari Bang Erpan saja yang diambil. Berpikir positif ajalah, barangkali Aprilia masih canggung sama aku, atau mungkin karena Bang Erpan lah yang ia kenal lebih dulu, atau ... atau apalagi, ya? Aku sulit menemukan alasan mengapa Aprilia nggak mau menerima air pemberian dariku. Sebenarnya bukan sesuatu hal yang perlu dipertanyakan atau dijadikan beban pikiran, sih, entah mengapa hati ini saja rasanya seperti nggak mau berhenti bertanya-tanya.
    "Kamu nggak apa-apa, Pril?"
    "Pelan-pelan aja makannya, nggak usah terburu-buru, sampai kesedak gitu," sambung Bang Erpan melanjutkan ucapanku.
    "Eng ... engga, kok, aku tadi aneh aja dengar Bang Erpan tadi."
    Hah! Apanya yang aneh, sih? Anehnya di mana, coba? Omongannya Bang Erpan aneh di mananya? Bukannya sudah sewajarnya bagi sepasang suami istri apalagi pengantin baru seperti kami ini mengharapkan kehadiran sang buah hati. Nggak ada salahnya, dong, kalau Bang Erpan berharap aku cepat isi, kan, aku istrinya. Kecuali Bang Erpan bilang begitu sama Aprilia, baru aku yang terkejut setengah mampus sampai tersedak gitu. Masih untung keselek jengkol, coba keselek tulang ayam, auto tamat sudah riwayat!
    "Hmmm ... berarti Zalvia belum isi, ya? Wah, udah dua bulan, loh," kata Aprilia, mengalihkan pembicaraan dari keseleknya dan seolah ingin memojokkanku yang belum hamil.
    "Lagian baru dua bulan juga, masih banyak waktu untuk mencoba. Mungkin juga Tuhan masih ingin kita pacaran dulu setelah menikah, jadi nggak langsung diberi anak," kata Bang Erpan sambil menatapku seolah ingin menguatkan serta membesarkan hatiku.
    "Tapi kehadiran anak itu penting, loh, dalam sebuah pernikahan, apalagi aku tahu banget dari dulu abang itu pengen banget punya anak, atau jangan-jangan..."
    Prang!!! Aku segera bangkit dari tempat dudukku lantas berlalu meninggalkan dua manusia yang terkejut dengan aksiku barusan. Aku sudah nggak tahan mendengar ocehan Aprilia yang seolah-olah menuduhku mandul. Heran juga padahal baru sekali ini aku bertemu dengannya, tapi sudah berhasil membuatku tersulut emosi, biasanya juga aku nggak gampang terpancing dengan omongan orang lain, apalagi orang yang baru aku temui. Lihat saja akan kubuktikan kalau aku bukanlah perempuan mandul seperti yang orang sangkakan.
    Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspada Aksi Pelakor

Tugas Desain Grafis: Membuat dan Menganalisis Logo