Mantan Sang Suami

***
    Tilililiiiit tilililiiiit ... Bunyi telepon Bang Erpan, suami yang telah kunikahi dua bulan ini membangunkan tidurku di pagi hari. Kulihat jam sudah menunjukkan waktu pukul lima pagi. Duh, ada apa lagi sih, pagi-pagi udah nelepon aja. Aku sudah bisa menebak dengan pasti siapa yang sedang mencoba menghubungi suamiku itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Azalea, mantan pertama Bang Erpan di SMA, Aprilia, mantan kedua Bang Erpan pada saat menjadi mahasiswa, atau si Amelia, mantan terakhir Bang Erpan sebelum menikah denganku.
    Konon ceritanya, Bang Erpan putus dengan Azalea dulu lantaran adanya orang ketiga dalam hubungan mereka yang membuat Azalea menggugat cerai, eh maksudnya meminta putus. Kalau sama Aprilia putusnya gara-gara emak mertuaku alias emaknya Bang Erpan kurang srek dengan Aprilia. Intinya firasat seorang emak yang merasa kalau sang anak tidak boleh berpasangan dengan Aprilia. Berhubung Bang Erpan ini emang orangnya paling nurut apa kata orang tua, jadi kisah cinta antara Bang Erpan dan Aprilia harus kandas oleh restu emak yang tak memihak pada mereka berdua.
    Nah kalau sama Amelia, katanya si Amelianya selingkuh sama sahabatnya Bang Erpan sendiri. Duh, emang yaa ... perselingkuhan dengan sahabat sendiri itu nggak hanya terjadi di dunia pernovelan saja, melainkan di dunia nyata pun banyak. Ya, memang rata-rata kisah yang ada di novel-novel itu diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, atau melalui pengamatan dan pengalaman orang lain yang diceritakan kepada penulis atau disaksikan oleh penulis itu sendiri. Akan tetapi bagi diriku pribadi, aku sulit bisa percaya dengan cerita kayak begituan kalau aku nggak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri atau mengalaminya secara langsung. Tapi, duh ... amit-amit, deh, kalau aku mengalaminya langsung, pasti sakit banget itu rasanya.
    Tilililiiiit ... tilililiiiiit ... lagi-lagi telepon itu berdering dengan nggak tahu malunya. Tak ingin membangunkan tidur suamiku yang lagi pulas-pulasnya, segera kuambil ponsel yang masih dalam mode berdering dan melihat siapa pemanggilnya. Aprilia. Tuh, kan, apa kubilang. Mantan kedua Bang Erpan ini belakangan ini sering sekali menelepon suamiku. Bukan, bukannya aku cemburu. Tapi aku nggak suka aja mendengar Aprilia masih menghubungi mantannya yang sudah sah berstatus suami seorang Zalvia Ifanda. Belum lagi pembahasan mereka yang nggak ada penting-pentingnya. Maunya kalau mau menghubungi suami aku tuh kalau ada yang penting-penting aja. Kalau cuma mau ngobrol berjam-jam khas orang jomblo mengenaskan, mending telepon orang senasib sanah, yang juga berstatus jomblo, biar obrolannya nyambung, dan nggak ada yang merasa terganggu.
    "Hallo, Honey!" Belum sempat tanganku menyentuh ponsel tersebut untuk menolak panggilan atau setidaknya mengangkat lalu memberitahukan bahwa Bang Erpan sedang tidur, nanti titip pesan saja sama aku kalau memang ada yang ingin disampaikan, tangan Bang Erpan sudah terlebih dulu menerima telepon tersebut, dan dengan suara khas bangun tidurnya, dengan gaya pecicilannya menyapa si penelepon dengan mesranya. Nggak tahu apa kalau itu ada istrinya di sini? Panggilan Honey itu adalah panggilan kesayangan Bang Erpan sama aku. Jelas aku nggak mau dong, panggilan tersebut ditujukan buat perempuan lain selain aku. Meskipun alibinya hanya sebatas panggilan akrab, nggak sampai melibatkan perasaan di dalamnya, yang penting hatinya tetap buat aku, tetap saja itu membuatku sedikit merasa was-was.
    Sembari aku menyiapkan baju yang akan dipakai Bang Erpan untuk berangkat kerja pagi ini, aku mendengar apa saja yang mereka bicarakan. "Apa kabar, Bang?" Suara Aprilia di seberang sana dengan manjanya. Dih pakai istilah basa-basi segala nanya-nanyain kabar, apa nggak bisa langsung ke poin inti permasalahannya saja kah? Heran, deh, baru saja dua bulan usia pernikahan, sudah ada saja yang menggoda iman. Pasalnya hampir setiap hari selama sebulan terakhir ini mantan-mantan Bang Erpan itu menghubungi. Kalau nggak pagi, ya sore. Kalau nggak siang, ya malam. Dan orang-orangnya selalu itu-itu saja. Aku curiga jangan-jangan mereka udah pada janjian dirolling kalau mau menggoda suami aku. Hey! Kalau nggak rela mantannya jadi suami aku, kenapa dulu ditinggalin, kenapa dulu diputusin!
    "Bang, adek kangen loh dulu kita sering teleponan berjam-jam, nggak peduli siang dan malam. Inget nggak dulu abang jam-jam segini suka bangunin adek buat sholat subuh. Biasanya di chat, atau nggak, di teleponin. Sekarang udah nggak pernah lagi. Apa abang udah lupa, yaa, sama adek. Bang, meski pun kita udah jadi mantan, tapi aku pernah loh jadi wanita yang paling abang sayang. Atau jangan-jangan, si Zalvia itu, ya, istri abang itu yang nggak ngebolehin teleponan lagi sama aku?" Tuduh Aprilia dengan suaranya yang dibuat-buat, jadi pengen muntah aku dibuatnya.
    Ish ... Sembarangan saja kalau ngomong seenak kudelnya kayak begitu. Meskipun aku sudah menikah dengan Bang Erpan dan berstatus sebagai istri sahnya Bang Erpan, aku nggak pernah membatasi mau sama siapa saja dia teleponan. Selama masih tahu batas, aku sih, nggak masalah. Masalahnya selama ini aku sudah berusaha menjaga perasaannya Bang Erpan dengan tidak lagi berinteraksi terlalu banyak alias berlebihan dengan laki-laki yang bukan suamiku. Wajar, dong, kalau aku ingin diperlakukan sama seperti itu, setidaknya bisa saling menjaga perasaan masing-masing.
    Akan tetapi, apa yang terjadi kini, apa yang kurasakan belakangan ini, kemesraan, keindahan, kehidupan rumah tangga yang romantis dan penuh harmoni hanya kurasakan satu bulan di awal pernikahan. Mungkin akunya yang harus bersabar, sebab sepertinya goncangan dalam rumah tangga akan aku terima di awal-awal, dan itu datangnya bukan dari orangtua, mertua, atau pribadi masing-masing yang masih dalam penyesuaian alias proses adaptasi, melainkan datangnya dari sang mantan dari suami yang kurasa ingin berbalikan, ingin merebut kembali apa yang sudah menjadi milikku.

***
    Yux! Jangan lupa komentar beserta dukungannya, yaa, saya ini masih penulis pemula alias amatiran, dan ini adalah buku kedua saya yang saya post di platform ini. Semoga pada suka dengan alur ceritanya, next barangkali ada masukan untuk tulisan saya selanjutnya, jangan lupa di subscribe agar tahu up-date-an terbaru serta kelanjutan dari cerita ini. Terima kasih saya ucapkan bagi yang sudah berkenan mampir dan membaca cerita saya, dan jangan lupa juga baca buku pertama saya yang berjudul Jeyhan Story. Sudah selesai sampai BAB lima belas saja sebagai permulaan, perkenalan, dan pemanasan, hehe.
    Sampai jumpa di BAB selanjutnya dari drama rumah tangga Zalvia. Apakah Zalvia akan memilih mundur dengan masa lalu sang suami, ataukah memilih terus bertahan dan memperjuangkan pernikahan yang baru dua bulan dijalani.
a Jangan lupa follow juga media sosial penulis; Facebook: @MiftahHilmyAfifah, Instagram: @afifah.pisc, dan TikTok: @miftahhilmyafifah,
    See you on the next part, thank you for reading!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspada Aksi Pelakor

Tugas Desain Grafis: Membuat dan Menganalisis Logo