Cerpen Akibat Suka Ghibah

CERPEN: 
Akibat Suka Mengghibah
Penulis: Miftah Hilmy Afifah
Karangan: Miftah Hilmy Afifah

***
     Takdapat diingkari lagi, mengghibah, bergosip, atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya adalah suatu kegiatan yang sukar ditinggalkan. Terlebih pada kaum perempuan. Di mana ada teman ngobrol, yang tadinya berbicara soal karir, hobi, aktifitas sehari-hari, ke sana-sananya malah menggosip tentang si ini dan si itu. Ya, kalau akhirnya tidak tertangkap basah oleh korban buah bibir. Nah, kalau sampai ketahuan? Wah, berabe tuh urusannya! Seperti yang terjadi padaku beberapa tahun lalu. Aku lupa sih tepatnya tahun berapa, yang jelas waktu itu aku masih berseragam putih biru. Tapi aku lupa kelas berapanya. Ketika itu, aku berkawan dengan tiga orang teman sekelas. Satu perempuan dan dua laki-laki. Kalau ditotalkan sama aku jadinya dua perempuan ditambah dua laki-laki, sama dengan empat orang berbeda jenis kelamin yang dua dengan yang lain. Wkwkwk bukan berbeda satu sama lain lagi yaa, bahasanya. Sebab, kalau demikian, maka ada yang berperan sebagai waria juga dong salah satunya wahahaha. 
     Sebut saja namanya Opi, Heru, dan Yudi. Saban hari kami berempat kerap bercerita, bergurau, bertengkar, pokoknya hal-hal yang selayaknya dilakukan oleh sahabat pada umumnya lah. Namun ada satu yang tidak bisa aku dan Opi tolerir dengan sifat Heru dan Yudi. Ya, Heru yang suka banyak omong kayak ibu-ibu kompleks, mengalahkan aku dan Opi yang notabenenya sebagai cewek sejati yang suka cerewet, dan Heru di atas kapasitas kami tingkat cerewetnya. Masih mending kalau cerewetnya bermutu, berisi, dan bergizi seperti makanan empat sehat lima sempurna. Lah ini, sudah ongkos alias omong kosong plus omdo alias omong doang, plus asbun alias asal bunyi. 
     Lantas bagaimana dengan sifat Yudi? Hmmm... memang sih, dia orangnya pintar, jadi kebanggaan sekolah. Sayangnya rakus bin malas. Pernah suatu ketika di sekolah sedang sibuk-sibuknya bergotong-royong mempercantik sekolah sebab ada gubernur terpilih tahun itu berkunjung ke sekolah kami bersama tim suksesnya dan Yudi sebagai anak emas sekolah diminta untuk tampil dengan segala prestasi yang pernah diraihnya. Aku dan Opi hilir mudik memungut daun yang gugur lantas memasukkannya ke dalam karung, menyiram halaman sekolah, kemudian menyapu kelas, pokoknya ngebabu banget deh. Si Heru nggak usah ditanya. Tadinya dia sempat membantu lap kaca jendela sih, akan tetapi belum selesai satu jendela pun, eeeh malah sibuk ngobrol sama pak satpam. Pakai acara ngopi bersama lagi. Enaknyaaaa baru kerja sedikit sudah terima konsumsi. Lah aku sama Opi, sudah kerjaannya bejibun, minumnya beli sendiri pula! 
"Yud, bantuin aku angkat karung ini dong! Berat banget nih. Kamu kan badannya gede". Kataku saat melihat Yudi tengah asyik duduk di bawah pohon ketapang mengawasi yang lain bekerja, seperti dia yang jadi kepala sekolah saja. 
"Hmmm... maaf, aku lagi menghafal teks yang akan aku bacakan nanti di depan Pak Gubernur". Jawab Yudi dengan santainya. 
"Adooooh sebentar aja kok, nggak sampai lima menit. Cuma bawain ke belakang sekolah aja". Kataku memohon. 
"Masa sih kamu nggak bisa mengerti, aku kan sebentar lagi mau tampil. Entar kalau aku kotor dan bau sampah bagaimana?" Jawab Yudi sembari melenggang kangkung meninggalkanku. 
"Huh! Bilang aja kalau kamu malas. Tiap kali  aku mintain tolong juga pasti banyak alasannya". Gumamku. 
     Terlanjur kesal dengan sifat Yudi dan Heru, aku pun mencari keberadaan Opi dengan niat ingin mengajaknya curcol yang kemungkinan besar akan bermuarah pada aktifitas menggosip ala-ala emak-emak rumpi di pedagang sayur. Ternyata Opi juga sebenarnya tidak suka dengan sifat kedua manusia itu. Merasa ada teman sepemikiran, akhirnya aktifitas menggosipi kawan sendiri itu terus berlanjut dan menjadi hal yang wajib kami lakukan saat jam istirahat dan pulang sekolah. Jika Heru dan Yudi mengekori kami selama di sekolah, aktifitas menggosip itu harus ditunda sampai di rumah, dan menggosip itu dilakukan via telepon. Bahkan, acapkali aku dan Opi terpingkal-pingkal membayangkan kelakuan manusia menyebalkan itu. 
"Eh, kamu tahu nggak? Tadi kan aku beli gorengan sepuluhribuan, niatnya mau makannya bareng kamu sama Heru. Sama Yudi juga-laaah. Tapi tadi kamu sama Heru kan lama keluar kelas, jadinya aku pergi sendiri deh ke kantin, biar nggak kelamaan nunggunya nanti kalau kantin udah ramai. Terus aku nggak nyadar ternyata di kantin udah ada Yudi. Terus dia nanya kan aku beli apa. Aku bilanglah nih beli gorengan. Terus dia bilang oooh mantap-mantap itu. Ayo makan di sini sama aku. Kebetulan perutku udah lapar ini hehe. Tadinya mau beli gorengan juga sih. Tapi karena kamu udah belikan, ya udah deh kita makan sama-sama. Dalam hatiku siapa juga yang mau belikan gorengan buat dia hahahahaha. Ending-nya apa coba, aku cuma dapat dua potong gorengan doang. Sisahnya masuk ke perut Yudi semua. Bener-bener perut karet dan tidak tahu etika. Padahal niatnya mau buat makan berempat lho". Tutur Opi menggebu-gebu. 
"Eh tadi pas pulang sekolah juga aku nggak sengaja lho, lihat Yudi di ruang guru lagi makan mie ayam sisah acara tadi kan, terus aku dengar ada suaranya Bu Putri dari dalam ruangannya bilang kekenyangan gitulah, katanya perutnya udah nggakk sanggup lagi masuk apa-apa. Tiba-tiba Yudi nyahut, sini kasih saya aja jatahnya ibu, daripada mubazir, lagian saya masih lapar juga ini wkkkk. Asli di mana urat malunya ya tuh anak". Kataku menyampaikan apa yang kusaksikan sepulang sekolah. 
"Mungkin urat malunya udah putus kali. Kalau kita mah syukur-syukur sudah mau dikasih sama orang, masa mau minta lebih? Bener-bener nggak ada akhlak tuh anak". Imbuh Opi. 
     Acara gosip menggosip itu pun terus berlanjut. Bahkan, belakangan ini empat sekawan itu seolah menjaga jarak antara yang laki-laki dan yang perempuan. Selayaknya aku dan Opi, beberapa kali tak sengaja kulihat Yudi dan Heru duduk bersama dan berbicara dengan nada pelan seolah takut ada yang mendengar. Namun, ketika aku dan Opi datang, mereka seketika bungkam, dan berusaha mengalihkan pembicaraan. 
"Apa mereka ngeghibahin kitakah?" Tanyaku pada Opi suatu ketika. 
"Ahh, nggak mungkin lah. Kalau sampai berani mereka ngejelek-jelekin kita dari belakang, aku nggak mau anggap pernah kenal sama mereka lagi". Jawab Opi santai seolah tak mau peduli. Dan acara gosip menggosip itu kembali dimulai. 
     Tanpa sadar sepasang mata dan sepasang telinga tengah mengawasi gerak-gerik serta menyimak apa-apa yang tengah kami bicarakan siang terik itu. Saat aku hendak mengambil ponselku dari dalam tas untuk menelpon jemputan, tiba-tiba seseorang merampas ponselku dan Opi secara bersamaan. Spontan kami berteriak dan yang lebih mencengangkan lagi pelaku dari perbuatan kurangajar itu adalah Yudi. Ya, orang yang menjadi bahan ghibah kami akhir-akhir ini. 
     Yudi sudah berdiri di hadapanku dan Opi. Dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Nafasnya memburu. Tubuhnya bergetar. Dan, aura buruk pun menjelma. Beberapa saat kami hanya mampu terdiam. Mencoba menguasai keadaan. Tak ingin berlarut dalam ketegangan yang semakin mencekam, aku pun membuka suara. 
"Yud, nggak lucu ya. Balikin nggak Hp-ku! Aku mau nelpon jemputan!". Teriakku. 
"Iya aku juga mau pulang ini!" Sergah Opi. 
"Sebentar. Aku cuma minta lima belas menit kalian". Kata Yudi, dingin. 
"Nggak bisa! Aku nanti ada acara di rumah sepupu!". Jawabku mencoba melarikan diri. 
"Lagian mau ngomong apa sih? kan nanti bisa lewat telepon kek, sms kek, facebook kek," Sambung Opi seolah tahu maksudku. 
"Nggak. Ini penting. Harus dibicarakan secara langsung. Kita harus selesaikan kesalahpahaman ini sekarang. Biar nggak ada saling membicarakan satu sama lain." Kata Yudi, tegas. 
     Merasa tak ada pilihan lain, aku dan Opi pun terpaksa menuruti permintaan Yudi. 
"Kenapa kalian suka menjelek-jelekkanku di belakang. Apa salahku sama kalian. Selama ini aku kira kalian orang baik-baik. Ternyata ini kerjaan kalian di belakang. Nggak nyangka aku sama kalian. Kata Yudi berapi-api. 
"Nggak, itu nggak benar. Kamu dengerin dulu penjelasanku!" Kataku berusaha memperbaiki keadaann. 
"Nggak! Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semuanya sudah jelas. Sekarang aku mau tanya sama kalian. Kalian masih mau jadi temanku atau cukup sampai di sini? Biar tidak ada yang saling menggunjing satu sama lain". Kata Yudi, tegas. 
"Masih mau". Jawabku dan Opi serempak, persis seperti buronan yang mengaku kalah, bersalah, pasrah, dan menyerah. 
     Akhirnya, siang itu empat sekawan kembali berbaikan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama serta menginstrospeksi diri agar tidak terjadi lagi kesalahpahaman yang disebabkan masalah remeh-temeh, buah dari ketidakcocokan perilaku antara pribadi yang satu dengan yang lain. Namun, layaknya benang yang sudah kusut sukar diluruskan kembali, empat sekawan itu tak lagi seakrab dulu. Selalu ada rasa bersalah dan tidak nyaman ketika mereka kumpul-kumpul, sehingga menimbulkan kecanggungan yang tak berarti. Ujung-ujungnya tongkrongan itu amat membosankan, mencekam dalam keheningan seolah bingung atau memang tidak ada yang perlu dibicarakan, lantas satu per satu akan mengandalkan jurus alasan palsu agar segera keluar dari lingkaran nan menyakitkan yang telah kuciptakan sendiri. 
***
          The End
          Selesai diketik: Selasa, 4  Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspada Aksi Pelakor

Tugas Desain Grafis: Membuat dan Menganalisis Logo